Home » , , » Pendidikan di Era Kejayaan Islam

Pendidikan di Era Kejayaan Islam

By Phen Efendi on 17 August 2010 | 8:09 PM

Pendidikan di Era Kejayaan Islam
Masa keemasan atau kejayaan pendidikan Islam terjadi pada paruh akhir abad ke-8 sampai paruh abad ke-13 masehi (kecuali era Hulagu, cucu Jengis Khan). Selama periode ini, seniman, insinyur, sarjana, penyair, filsuf, ahli geografi dan pebisnis di dunia Islam sama-sama berkontribusi pada perkembangan agrikultura, seni, perekonomian, industri, hukum, sastra, navigasi, filosofi, sains, sosiologi dan teknologi dengan cara memelihara tradisi sebelumnya dan dengan menambah invensi dan inovasi mereka sendiri.
Apa saja kontribusi keilmuan umat Islam di era ini tidak akan dielaborasi di sini. Saya hanya akan sedikit menggarisbawahi bagaimana situasi sosial, politik dan kejiwaan umat Islam saat itu sehingga timbul ghirah (spirit) yang tinggi dari mayoritas umat terhadap ilmu pengetahuan sehingga mereka menjadi inspirasi bagi umat lain pada zamannya.
Peran Agama
Islam menempatkan Ilmu dan ahli ilmu dalam posisi yang sangat tinggi. Nabi menyerukan agar setiap individu muslim mencari ilmu “sampai ke negeri China.” Dan bahwa “tinta seorang intelektual itu lebih berharga daripada darah seorang yang mati syahid.”  Al Quran menegaskan bahwa ahli ilmu jauh lebih tinggi derajatnya daripada orang biasa (QS Al Mujadalah 58:11).
Motivasi dan dorongan dari internal ajaran Islam itu sendiri sebenarnya sudah cukup kuat untuk membuat umat Islam pada era ini menjadi begitu bersemangat untuk menimba dan mengeksploarsi ilmu seoptimal mungkin.
Peran Negara
Selama peirode emas ini, dunia Islam berada di bawah kepemimpinan khilafah Abbasiyah.  Khalifah Abbasiyah yang sangat berperan pada saat itu adalah Khalifah Makmun Al Rasyid, putra Khalifah Harun Al Rasyid,  yang mendirikan Baitul Hikmah (Rumah Kearifan).
Di Baitul Hikmah inlah berbagai ilmuwan, muslim dan non-muslim, berkumpul dan menterjemahkan seluruh keilmuan dunia ke bahasa Arab.
Banyak karya-karya klasik yang sudah terlupakan diterjemah ke dalam bahasa Arab. Terjemahan versi bahasa Arab ini di kemudian hari diterjemah ke dalam berbagai bahasa seperti Turki, Persia, Ibrani dan Latin. Banyak karya klasik yang dikumpulkan dan dijadikan satu dari berbagai karya-karya yang berasal dari Mesopotamia kuno, Romawi kuno, China, India, Persia, Mesir kuno, Afrika Utara, Yunani Kuno, dan peradaban Bizantium.
Khilafah Islam lain yang merupakan rival dari dinasti Abbasiyah seperti Fatimiyah di Mesir dan Umayyah di Al Andalusia Spanyol bersaing untuk juga menjadi pusat keilmuan. Dengan demikian, Kairo, Kordoba dan Baghdad sama-sama menjadi pusat keilmuan dunia pada zamannya.
Toleransi dan Kebebasan Beragama
Telah disinggung di muka, bahwa kalangan ilmuwan yang dikumpulkan di Baghdad terdiri dari muslim dan non-muslim. Ini menunjukkan bahwa kebebasan beragama dijamin walaupun berada di bawah pemerintah Islam.  Kebijakan terbuka dan  toleran ini menarik kalangan intelektual terbaik dari berbagai latar belakang agama dan budaya baik Islam, Kristen dan Yahudi untuk ikut berpartisipasi. Inilah yang membuat era ini menjadi periode paling kreatif dan produktif di Abad Pertengahan.
Kebebasan Berpendapat
Kebebasan berpendapat tidak hanya diijinkan tapi juga dihargai. Hal ini memungkinkan setiap ilmuwan dan sarjana dapat mengekspresikan segala macam opini, bereksperimen dan berinvensi tanpa merasa takut karyanya akan dilarang.
Penekanan pada kebebasan berpendapat ini penting karena seorang ilmuwan atau sarjana tidak akan dapat berkarya secara optimal apabila berada dalam bayang-bayang rasa takut karyanya akan dilarang atau akan dipenjara.
Perpustakaan Umum
Perpustakaan menjadi tulang punggung dari kemajuan keilmuan. Peran negara pada saat itu sangat signifikan dalam mendirikan perpustakaan yang lengkap dan komplit sebagai salah satu pendukung utama proses pembelajaran, analisa dan kreatifitas.
Baitul Ilm atau Rumah Ilmu adalah nama perpustakaan umum yang berada di banyak kota di Afrika Utara dan Timur Tengah pada abah ke-9 yang terbuka untuk umum. Para staf perpustakaannya digaji oleh negara sebagai PNS (pegawai negeri sipil).
Perguruan Tinggi
Harus ada level pendidikan tinggi untuk menuju keahlian tertentu. Sebagaimana saat ini di mana spesifikasi keilmuan dimulai diperguruan tinggi dalam program sarjana dan pascasarjana, pada saat itu pun institusi selevel perguruan tinggi sudah didirikan dengan berbagai jurusan sains, ilmu sosial dan ilmu agama.
Bahkan universitas pertama yang mengeluarkan ijazah adalah sekolah tinggi kedokteran Bimaristan yang memberikan ijazah untuk kedokteran Islam dan berhak untuk melakukan praktik pengobatan pada abad ke-9.
The Guinness Book of World Records mengakui bahwa Universitas Al Karowiyin di Fez, Maroko sebagai universitas tertua yang memberikan ijazah yang didirikan pada 859 M, disusul oleh Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir pada 975 M yang mengeluarkan ijazah akademis sampai tingkat pascasarjana. Asal mula dari program S3 atau doktoral juga bermula dari madrasah abad pertengahan yang saat itu disebut ijazatut tadris wal ifta’(ijazah untuk mengajar dan berfatwa).
Darul Hikmah atau Rumah Kearifan sendiri di samping sebagai lembaga penterjemahan juga merupakan institusi setingkat perguruan tinggi, perpustakaan dan lembaga penelitian dan menjadi pusat pelatihan dan pengajaran berbagai macam cabang keilmuan.
Universitas Nizamiyah di Neshapur, Baghdad, Khorasan, Iraq and Syria yang didirikan oleh Nizamul Muluk pada 1066 M dan dipimpin oleh Imam Al Haramain, guru dari Imam Al Ghazali, termasuk di antara jajaran universitas pertama dalam sejarah Islam dan bahkan dunia.
Semua Ilmu diajarkan dan dipelajari
Universitas Islam pada era pertengahan membuka berbagai fakultas dan jurusan. Termasuk jurusan sains, ilmu sosial dan ilmu agama. Dan dari sana, lahirlah kalangan ilmuwan yang karya dan penemuannya  terus diingat dan dibaca hingga saat ini.
Kenyatan ini menjadi pelajaran bagi para santri yang lebih suka belajar ilmu agama saja dan meninggalkan sains. Juga pelajaran bagi pesantren yang lebih cenderung membuka perguruan tinggi jurusan agama.
Penulis berpendapat bahwa Indonesia sudah terlalu banyak memiliki IAIN atau UIN, sehingga banyak mahasiswa yang sebenarnya potensial di bidang sains jadi “terpaksa” studi jurusan agama.
Dedikasi Guru dan Hartawan
Guru dan profesor pada saat itu dikenal sebagai kelompok yang penuh dedikasi, berwawasan luar dan keilmuan yang tinggi dan pada saat yang sama hidup sederhana. Hidup keseharian mereka adalah contoh perilaku muslim yang salih: pekerja keras, sederhana, berdedikasi, dan toleran. Para murid dan mahasiswanya pun meniru pola hidup gurunya.
Dalam segi pendanaan ada tiga macam institusi pada periode ini yaiu (1) Insitutusi yang didirikan dan didanai oleh pejabat negara; (2) Institusi yang didirikan oleh kalangan hartawan dan didukung oleh donasi dari berbagai sumber dan (3) institusi yang didirikan oleh kalangan guru.
Tiga macam institusi tadi secara umum juga mendapat bantuan dana dari pemerintah terutama untuk yang setingkat perguruan tinggi. Pencarian dan dedikasi  intelektual para guru membuat mereka tidak ikut-ikutan terlibat dalam kegiatan bisnis.
Pendidikan Gratis
Hartawan yang memberi donasi secara teratur, para guru yang hidup sederhana dan rela dibayar murah membuat sebuah institusi pendidikan memiliki cukup dana untuk tidak hanya memberikan pendidikan gratis, tapi juga asrama dan makan gratis bagi seluruh pelajar dan mahasiswa.
Pendidikan gratis secara total ini sampai saat ini masih berjalan di sejumlah pesantren di India, Pakistan dan Bangladesh. Sementara hanya ada satu pesantren di Indonesia yang memberi fasilitas gratis kepada para santri termasuk biaya sekolah sampai S1, makan dan asrama yakni di pondok pesantren Al Ashriyah Parung, Bogor pimpinan Habib Assegaf.
Kesimpulan
Peran pemerintah yang sangat besar terhadap dunia pendidikan pada era keemasan Islam tampaknya menjadi faktor terpenting yang menjadikan negara-negara Islam pada saat itu –seperti  Baghdad, Mesir dan Andalus (Spanyol)–menjadi pusat keilmuan dan peradaban dunia. Keterlibatan negara ini terkait dengan dana pendidikan yang besar, kebijakan yang toleran, kebebasan berpendapat, infrastruktur pendidikan yang lengkap. Dedikasi para guru, ilmuwan, peneliti dan peran para hartawan juga penting untuk menciptakan suasana kondusif.
Saat ini, peran media seperti media cetak, radio dan terutama televisi juga tak kalah pentingnya dalam mempromosikan pentingnya pendidikan dengan cara membuat acara-acara yang mendidik dan visi media yang pro-pendidikan dan mencerdaskan.
Pendidikan di Era Kejayaan Islam (Islamic golden age). Seri tulisan pendidikan Islam untuk anak muslim.
Oleh A. Fatih Syuhud
Bibliografi:
Amira K. Bennison, The Great Caliphs: The Golden Age of the ‘Abbasid Empire, Yale University Press (USA), 2010.
John M. Hobson, The Eastern Origins of Western Civilisation, Cambridge University Press, 2004
Maurice Lombard, The Golden Age of Islam, Markus Wiener Publishers (USA), 2003.
Saeed Akbarabadi, The Rise and Fall of Muslims, Adam Publisher, New Delhi (India), 2005.
Veronique Ageorges, The Arabs In The Golden Age (Peoples of the Past), (diterjemah dari bahasa Prancis oleh Mokhtar Moktefi), Millbrook Press (USA), 1992.

Artikel lain yang mungkin Anda sukai :
Kemunduran Pendidikan IslamNasihat Syeikh Yusuf Qaradhawi untuk Kaum Muslimin Terkait Film Innocence of Muslims “IOM”Kanselir Jerman, Angela Merkel : Islam Telah Menjadi Bagian dari JermanGenerasi Intelektual Profetik Proyek Percontohan Kebangkitan BangsaPengetahuan dan FilsafatFakta Mengagumkan Tentang ADZANTujuan Zakat dan Dampaknya dalam Kehidupan Pribadi dan MasyarakatNabi Muhammad di Mata Para Tokoh DuniaKeutamaan Puasa dan Rahasia-RahasianyaKH Hasyim Asy’ari, Pendiri Nahdlatul Ulama Organisasi Islam Terbesar di IndonesiaMenguak Rahasia di Balik WudhuPenentuan Awal dan Akhir Ramadhan Dalam Perspektif FIQIH

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...